"NGOBROL BARENG TUHAN DI CAFE"
Baca juga : Merry Christmas: “Aku Tidak Suka Natal” (kata teman saya)
“NGOBROL BARENG TUHAN DI CAFE”
Jujur aja, judul ini kedengarannya agak aneh. Siapa juga yang
“ngobrol sama Tuhan” di cafe? Tapi itu yang bener-bener Aku rasain malam ini.
Semua berawal dari hal sederhana. Seorang temen lama dari
Jakarta lagi liburan ke Bali dan ngajak ketemuan. Udah sekitar 7 tahun kita gak
ketemu, sejak lulus dari Sekolah Alkitab di Batu, Malang. Dia dulu ketua
kelompok Aku, orang yang Aku hormatin, sekaligus yang dulu sering “nge-push”
Aku waktu masih proses.
Sebenernya dia udah ngajak dari kemarin untuk ketemu, tapi
ya… hidup kan gak selalu sinkron. Baru malam ini, Rabu, 25 Maret 2026, kita
akhirnya bisa ketemu.
Tempatnya? Sebuah cafe di Seminyak, Fournineteen. Konsepnya
memang cafe worship. Musik rohani live, orang bisa request lagu, bahkan maju
nyanyi ke depan. Dan jujur, ini bukan pertama kali Aku ke sini, udah ketiga
kalinya. Jadi ya, biasa aja.
Dan anehnya, Aku tetap excited.
Padahal biasanya Aku paling males kalau ketemu temen yang
datang bareng keluarga. Ada rasa canggung, kayak “ini Aku ngapain di sini?”
Tapi malam ini beda. Aku satu-satunya orang luar di meja itu dan surprisingly,
semuanya ngalir aja.
Awalnya ngobrol biasa. Nostalgia. Cerita hidup, ketawa-ketawi,
diiringi lagu-lagu rohani yang dinyanyikan live.
Sampai akhirnya… sesuatu mulai berubah.
Saat Tuhan Mulai “Masuk” Lewat Lagu
Ada dua wanita maju untuk nyanyi. Sebelum nyanyi, salah satu
dari mereka sempat ngomong:
Kadang hidup gak sesuai harapan. Terutama soal waktu. Tapi
percaya… semua ada waktunya Tuhan.
Klasik. Klise. Tapi malam itu, entah kenapa, kena.
Lalu dia nyanyi lagu tentang waktu Tuhan.
Dan dari situ, perhatian Aku mulai ke-drag. Bukan lagi ke
obrolan meja. Tapi ke panggung.
Lanjut, seorang ibu ulang tahun (51 tahun) maju nyanyi lagu
lama. Lalu setelah itu, ada momen kecil yang bahkan kelihatannya gak penting. MC
sempat bingung karena ada nama “Anel” dan “Angel”.
Aku ingat banget.
Karena ternyata… itu bukan sekadar nama.
Lagu Biasa, Tapi Pukulannya Gak Biasa
Anel maju ke depan, ditemani kakaknya. Suara mereka? Kalau
dinilai jujur, biasa aja… udah kayak juri Indonesian Idol aja wkwkwk.
Tapi yang terjadi setelah itu… gak biasa.
Mereka nyanyi lagu lama:
“Tak Ku Tahu Kan Hari Esok.”
Dan di situ, Aku hancur pelan-pelan.
Karena itu lagu… kayak lagi baca isi kepala Aku sendiri.
Aku lagi ada di fase hidup yang keruh. Banyak rencana yang
menurut Aku baik tiba-tiba berantakan. Kayak main UNO, terus kena reverse.
Semua kebalik. Semua gak sesuai ekspektasi.
Dan jujur aja, beberapa waktu ini Aku ngerasa… Tuhan kayak
diam.
Aku doa rasanya kosong.
Aku ke gereja rasanya biasa.
Aku nunggu jawaban gak ada respon.
Tapi malam itu, lewat lagu itu… rasanya Tuhan gak diam. Dia
cuma ngomong dengan cara yang Aku gak expect.
Pelan-pelan, di tengah lagu, kayak ada suara di dalam:
“Waktu-Ku bukan waktu kamu. Kalau Aku izinin sesuatu terjadi,
itu bukan kebetulan.”
Lanjut lagi:
“Kamu gak tahu hari esok. Tapi Aku tahu. Kamu gelisah? Wajar.
Tapi jalan aja sama Aku.”
Dan pas masuk bagian refrein:
“Banyak hal tak kufahami dalam masa menjelang. Tapi terang
bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang.”
Itu bukan lagi sekadar lirik.
Itu kayak jawaban.
Seolah Tuhan bilang:
“Kamu gak harus ngerti semuanya. Tapi kamu harus percaya satu
hal. Aku pegang tangan kamu.”
Dan yang paling jujur?
Aku lagi marah. Aku lagi kecewa. Aku lagi capek.
Dan “suara” itu kayak lanjut:
“Aku tahu kamu marah. Aku tahu kamu sakit. Tapi kamu tetap
anak-Ku. Aku gak lepasin.”
Di situ, Aku hampir nangis.
Tuhan Gak Berhenti di Satu Lagu
Setelah Anel, Angel maju nyanyi lagu “Yesus Setia”.
Dan ini menarik, seakan Tuhan gak cuma berhenti di “Aku
pegang tanganmu”, tapi lanjut ke:
“Aku gak pernah berubah.”
Kalau dipikir, benar juga.
Berapa kali Aku jatuh?
Berapa kali Aku kacau?
Berapa kali Aku gak layak?
Tapi tetap… Aku masih ada di titik ini.
Bukan karena Aku kuat. Tapi karena Dia setia.
Tamparan Paling Keras Datang dari Hal
Sederhana
Penutup tamu malam itu adalah saudara dari temen Aku. Dia
nyanyi lagu “Pribadi yang Mengenal Hatiku”.
Dan ini… lebih dalam lagi.
Karena setelah itu, Aku sempat dengar dia ngomong ke temen
Aku di parkiran:
“Saya masih proses mengenal dan dekat sama Tuhan. Doakan ya…”
Sederhana.
Tapi kena banget.
Karena Aku sadar, banyak orang lagi berjuang mendekat ke
Tuhan, walaupun hidup mereka belum “rapi”. Mereka sadar belum sempurna, tapi
tetap datang.
Sementara Aku?
Kadang malah sibuk nutupin semuanya.
Padahal… Tuhan udah tahu duluan.
Alkitab bilang:
“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia
menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”
— Mazmur 34:18
Bukan yang kuat.
Bukan yang kelihatan rohani.
Tapi yang remuk.
Penutup yang Gak Direncanakan
Malam itu ditutup dengan lagu “Ku Istimewa”.
Dan ini kayak penegasan terakhir:
Dunia boleh bilang kita gak berarti.
Dunia boleh kasih label apa aja.
Tapi Tuhan?
Dia bilang:
“Kamu milik-Ku. Kamu berharga. Kamu istimewa.”
Jadi… Apa Intinya?
Aku datang ke cafe cuma buat ketemu temen lama.
Tapi pulang dengan sesuatu yang lebih dalam:
Tuhan ternyata gak terbatas tempat.
Bukan cuma di gereja.
Bukan cuma di saat teduh.
Bahkan di cafe, di tengah noise, di tengah obrolan, di tengah
lagu yang dinyanyikan orang biasa
Tuhan bisa ngomong.
Dan kadang… justru di situ kita lebih denger.
Kalau lagi di fase bingung, kecewa, atau ngerasa Tuhan
jauh—jangan buru-buru nyimpulin Dia diam.
Bisa jadi…
Dia lagi ngomong.
Cuma bukan dengan cara yang kamu harapkan.
Dan satu hal yang pasti:
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada
pada-Ku mengenai kamu… yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan
kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”
— Yeremia 29:11
Malam itu Aku gak dapat semua jawaban.
Tapi Aku dapat ketenangan.
Dan jujur… itu lebih penting.
What a night.

😇
BalasHapus