Langsung ke konten utama

Merry Christmas: “Aku Tidak Suka Natal” (kata teman saya)


Merry Christmas: “Aku Tidak Suka Natal”

(kata teman saya) 



Baca juga : Apakah Engkau Pernah Merasakan Pahit? (Wahyu 8:11)


Merry Christmas: “Aku Tidak Suka Natal”

(kata teman saya)

Riscky A. Mamusung

 

Merry Christmas, semuanya.

Natal selalu terasa menyenangkan. Suasananya hangat, lagu-lagunya familiar, dan entah kenapa hati terasa lebih lembut dari biasanya. Namun beberapa waktu lalu, saya teringat satu obrolan dengan seorang teman.

Kami sedang berbincang tentang Natal, sampai pada satu titik ia mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan:
ia tidak suka Natal.

Bukan karena ia membenci Yesus.
Bukan pula karena ia menolak iman Kristen.

Ada alasan di balik itu semua.
Dan alasan itulah yang ingin saya bahas kali ini, alasan yang nanti akan muncul dalam pembahasan tulisan ini.

Di sisi lain, bagi saya pribadi, Natal justru selalu membawa rasa rindu.
Natal bikin ingat kampung halaman juga nggak sih?

Kalau saya, iya.
Saya kangen keluarga setiap Natal tiba. Bukan cuma acaranya, tapi momennya itu loh yang ngangenin banget.

Hayo, siapa di sini yang anak rantau kayak saya?
Kampung saya di Bumbungon, sebuah desa yang terletak sekitar lima jam dari Kota Manado.
Dan saat tulisan ini dibuat, saya sedang merantau di Bali. Hehehe.

Natal selalu datang membawa rasa hangat dan rindu. Namun dari obrolan itu, saya mulai bertanya lebih dalam:
sebenarnya, Natal ini tentang apa? Dan mengapa maknanya bisa terasa berbeda bagi setiap orang?

 

1.Natal dalam Terang Alkitab : Inkarnasi, Bukan Sekadar Perayaan

Saya mulai dari sini. Alkitab tidak pernah mencatat tanggal kelahiran Yesus. Namun Alkitab dengan sangat jelas menekankan makna dari kelahiran itu.

“Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yohanes 1:14).

Natal adalah inkarnasi. Allah yang kekal rela merendahkan diri menjadi manusia. Filipi 2:6–7 menyatakan bahwa Kristus “mengosongkan diri-Nya” dan mengambil rupa seorang hamba.

Karena itu, Natal tidak pernah dimaksudkan sebagai perayaan sentimental (Perasaan yang dangkal atau emosional semata). Bayi Yesus dalam palungan tidak bisa dipisahkan dari Yesus yang disalibkan. Palungan menunjuk pada salib, Kelahiran menunjuk pada penebusan.

Tanpa salib, Natal kehilangan arah.

 

2.Natal yang Dipersoalkan: Kritik yang Tidak Bisa Diabaikan

Di sinilah kritik teman saya menjadi relevan.

Ia melihat bagaimana Natal sering kali berubah menjadi panggung kemeriahan rohani. Gereja-gereja sibuk dengan dekorasi, konsep acara, dan penampilan. Semua terlihat indah, rapi, dan terencana.

Namun pertanyaannya:
apa yang benar-benar diingat setelah Natal lewat?

Yesus sendiri pernah berkata:

“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku” (Matius 15:8).

Ayat ini tidak sedang menyerang perayaan, tetapi menyingkap bahaya ibadah yang kehilangan pusatnya. Ketika Kristus tergeser oleh kemasan, Natal berubah dari peristiwa iman menjadi rutinitas tahunan.

Bahkan tidak jarang, wajah pendeta atau pembicara justru lebih dominan di banner Natal dibandingkan Kristus yang dirayakan, foto Yesus nggak ada, tapi foto pembicara atau pendetanya segede gaban. Kritik ini tidak berlebihan ia lahir dari keprihatinan yang nyata.

 

3.Sejarah Natal dan Bahaya Ketika Iman Ditelan Budaya

Penetapan 25 Desember sebagai hari Natal tidak pernah bersifat alkitabiah. Ia muncul dalam konteks sejarah dan budaya.

Sebagian sejarawan mengaitkannya dengan festival Romawi seperti Sol Invictus, perayaan kelahiran matahari yang tak terkalahkan. Gereja pada masa itu mencoba mengisi makna baru: Kristus sebagai Terang Dunia.

Di sisi lain, ada pula perhitungan teologis berdasarkan kalender Yahudi yang mengaitkan hari penyaliban dan hari konsepsi Yesus.

Namun apa pun teorinya, satu hal jelas:
Natal sejak awal memang bersinggungan dengan budaya.

Masalah muncul ketika budaya tidak lagi menjadi sarana, tetapi penguasa makna.

Contohnya terlihat jelas di Jepang. Natal dirayakan secara luas, penuh dekorasi dan suasana, tetapi hampir sepenuhnya terlepas dari Kristus. Natal menjadi musim, bukan iman.

Ironisnya, Natal Kristen bisa jatuh ke kondisi yang sama jika tidak dijaga.

 

4.Natal, Rindu, dan Kembali ke Injil

Sebagai anak rantau, Natal bagi saya tetap indah, tetap hangat, tetap penuh rindu. Namun Natal tidak boleh berhenti di situ.

Yesus lahir bukan supaya manusia sekadar merasa nyaman, melainkan supaya manusia diselamatkan:

“Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21).

Natal sejati selalu membawa kita kembali kepada Injil. Allah yang mendekat kepada manusia yang berdosa, bukan manusia yang sibuk membangun pesta bagi Allah.

 

Natal memang menyenangkan.
Natal memang bikin rindu rumah.
Natal memang penuh momen hangat.

Namun Natal yang kehilangan Kristus hanyalah perayaan kosong.

Mungkin kritik teman saya perlu kita dengar, bukan untuk membatalkan Natal, tetapi untuk memurnikan kembali maknanya.

Karena pada akhirnya, Natal bukan tentang seberapa megah perayaannya,
melainkan seberapa jelas Kristus hadir di dalamnya.

Merry Christmas.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

#3 = Roh Kudus: Siapa Dia dan Apa Peran-Nya? (Yohanes 16:7–15)

#3 "Roh Kudus: Siapa Dia dan Apa Peran-Nya?" (Yohanes 16:7–15)   Baca juga :  #2 = Janji Bapa: Roh Kudus Akan Dicurahkan (Kisah Para Rasul 1:4–5, Yohanes 14:16–17) "Roh Kudus: Siapa Dia dan Apa Peran-Nya?" (Yohanes 16:7–15) Chapter 3 dari  Series : 10 Hari Menanti Pentakosta   Kali ini, kita sampai pada satu pertanyaan penting yang perlu dijawab oleh setiap kita yang rindu hidup dipenuhi Roh Kudus: "Siapa sebenarnya Roh Kudus? Dan apa yang Ia lakukan dalam hidupku?" Karena bagaimana mungkin kita bisa menyambut dan berjalan bersama-Nya, jika kita sendiri belum sungguh-sungguh mengenal pribadi-Nya?   I.           Roh Kudus Adalah Pribadi, Bukan Sekadar Kuasa Mari kita mulai dengan sesuatu yang sangat mendasar namun seringkali terlewat: Roh Kudus adalah Pribadi, bukan sekadar kekuatan atau energi ilahi. Yesus sendiri dalam Yohanes 16 berulang kali menyebut-Nya dengan kata “Ia,” bukan “itu.” Ini bu...

"Ia Naik, Tetapi Tidak Pernah Meninggalkan Kita" (Kisah Para Rasul 1:6–11)

  " Ia Naik, Tetapi Tidak Pernah Meninggalkan Kita" (Kisah Para Rasul 1:6–11) Baca juga :  “Bukan Keadaan, Tapi Kamu yang Semakin Kuat” " Ia Naik, Tetapi Tidak Pernah Meninggalkan Kita" (Kisah Para Rasul 1:6–11) Pada hari ini, kita memperingati sebuah peristiwa agung dalam sejarah iman Kristen, yakni kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga. Ini bukan sekadar momen teologis, tetapi merupakan titik penting dalam rencana keselamatan Allah bagi umat manusia. Kenaikan Kristus menandai transisi dari karya penebusan di dunia menuju pemerintahan-Nya yang kekal di surga dan sekaligus menjadi panggilan bagi kita semua untuk meneruskan misi-Nya di dunia ini.           I.  KENAIKAN YESUS BUKAN AKHIR, MELAINKAN PENGGENAPAN Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 1:9 mencatat: “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.” Peristiwa ini bukanlah tanda bahwa Yesus telah meninggalkan...

"Mengapa Kita Berdoa 10 Malam? Memahami Kuasa yang Dijanjikan"

  "Mengapa Kita Berdoa 10 Malam? Memahami Kuasa yang Dijanjikan" Baca juga :  "Ia naik, tetapi tidak pernah meninggalkan kita." "Mengapa Kita Berdoa 10 Malam? Memahami Kuasa yang Dijanjikan" SERIES : 10 Hari Menanti Pentakosta Shalom, saudara-saudari terkasih dalam Tuhan! Pernahkah saudara bertanya-tanya, “Kenapa gereja kita mengadakan Doa 10 Malam setelah Kenaikan Tuhan Yesus?” Apakah ini hanya tradisi? Ataukah ada kuasa dan makna rohani yang dalam di baliknya? saya ingin mengajak kita semua menggali bersama: Mengapa Doa 10 Malam ini penting? Apakah ada dasar alkitabiahnya? Dan bagaimana ini bisa memperbarui hidup rohani kita? 1. Dasar Alkitabiah – Apa yang Terjadi Setelah Kenaikan? Setelah Yesus naik ke surga, murid-murid tidak langsung menyebar atau pulang ke rumah masing-masing. Mereka berkumpul di satu tempat, berdoa dengan tekun. Mari kita buka Kisah Para Rasul 1:12-14: “Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bu...