CAUTION !!! Roh Kudus yang Disalah Arah dan Artikan - KARUNIA BUKAN UKURAN, tetapi ROH KUDUS adalah HUBUNGAN
Baca juga : #10 = “PENTAKOSTA” KUASA YANG MENGUBAH DUNIA
“Roh
Kudus:
Bukan
Sekadar Kuasa, Tetapi Hubungan yang Hidup”
Pada suatu malam, saya lagi scroll media sosial.
Seperti biasa, sekadar mencari hiburan sebelum tidur, dan tanpa disangka muncullah
di FYP saya sebuah potongan video khotbah. Pendeta dalam video itu berbicara
tentang Roh Kudus. Awalnya saya berpikir, "Wah, bagus nih, pengajaran
tentang Roh Kudus." Tapi makin lama saya dengar, hati saya mulai terusik.
Pendeta itu bilang, "Kalau kita dipenuhi Roh
Kudus, kita akan masuk dalam dimensi Roh. Dia mengatakan kalau ada yang bertanya
kalau dalam dimensi tesebut apakah mampu melihat malaikat? Dia mengatakan bisa.
Kita juga akan dapat karunia-karunia yang luar biasa. Hidup rohani harus naik
level masuk dimensi Roh, baru kita punya karunia."
Terdengar keren, memang. Tapi semakin saya renungkan,
semakin saya sadar bahwa ini pengajaran yang sangat melenceng dari kebenaran
Firman Tuhan. Karena seolah-olah karunia itu jadi tujuan utama dari Roh Kudus.
Padahal inti dari Roh Kudus bukan karunia, bukan kuasa supranatural, melainkan
hubungan yaitu Relasi yang hidup dan nyata dengan Allah.
I.
Siapa Roh Kudus Itu? – Roh adalah
Pribadi, Bukan Sekadar Kuasa
Kita harus kembali ke akar. Dalam bahasa Ibrani, kata
“Roh” diterjemahkan dari kata “Ruach”, yang berarti napas, angin, atau
hembusan hidup. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan adalah “Pneuma”,
yang juga berarti angin atau roh. Namun, jangan salah mengerti. Roh Kudus bukan
sekadar "energi" atau "kuasa gaib." Roh Kudus adalah Pribadi
Allah sendiri bagian dari Tritunggal: Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh
Kudus.
Yesus sendiri menjelaskan hal ini:
“Dan Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia
akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu
selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran.”
(Yohanes
14:16-17)
Roh Kudus bukan hanya untuk “kuasa” atau “penglihatan
malaikat” tetapi untuk menyertai, membimbing, dan mengajar kita hidup dalam
kebenaran.
II.
Tujuan Roh Kudus: Bukan Masuk Dimensi
Roh, Tapi Masuk Dalam Hubungan
Mari kita luruskan perspektif tentang Tujuan utama
dari kehadiran Roh Kudus adalah membawa kita ke dalam hubungan yang dalam dan
sejati dengan Allah.
“Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah
Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
(Yohanes 4:24)
Ayat ini jelas. Tuhan itu Roh, dan kita tidak bisa
berhubungan dengan-Nya secara jasmani. Kita perlu dimensi roh, bukan untuk
melihat malaikat, tetapi untuk mengenal Tuhan lebih dalam. Ini bukan tentang
“masuk alam roh” yang mistik, tapi tentang relasi yang sejati dengan Sang
Pencipta.
III.
Karunia Bukan Tujuan, Tapi
Perlengkapan
Betul bahwa Roh Kudus memberikan karunia-karunia. 1
Korintus 12 menjelaskan berbagai karunia Roh: berbicara dengan hikmat,
pengetahuan, iman, penyembuhan, mujizat, nubuat, membedakan roh, bahasa roh,
dan menafsirkan bahasa roh.
Tapi penting untuk dicatat: karunia bukanlah bukti
kedewasaan rohani, dan bukan tujuan utama. Karunia adalah alat bantu untuk
pelayanan.
“Tetapi kepada tiap-tiap orang
dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama.”
(1
Korintus 12:7)
Tuhan kasih karunia bukan supaya kita jadi
"supernatural", tapi supaya kita bisa membangun tubuh Kristus.
IV.
Yang Tuhan Lihat Bukan Karunia, Tapi
Buah
Mari kita buka Matius 7:15-23. Yesus berbicara keras
tentang nabi-nabi palsu dan pengajaran sesat. Dikatakan bahwa:
“Bukan setiap orang yang berseru
kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang
melakukan kehendak Bapa-Ku.”
(Matius 7:21)
Dan perhatikan ayat 22-23:
“Pada hari terakhir banyak orang akan
berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu,
dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat
demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan
berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat
kejahatan!”
Ini menohok sekali, karena di situ mereka punya karunia-karunia
bernubuat, mengusir setan, mengadakan mujizat. Tapi Yesus bilang: “Aku tidak
pernah mengenal kamu.” Kenapa? Karena tidak ada hubungan, tidak ada relasi,
mereka berbuat jahat yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan sesuatu yang
tidak sesuai dengan kehendak Tuhan itu adalah hasil dari komunikasi atau relasi
yang buruk dengan Tuhan.
Yang Tuhan nilai bukan karunianya, tapi buahnya.
V.
Buah Roh adalah Bukti Hidup yang
Dipimpin Roh
“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita,
damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri.”
(Galatia 5:22-23)
Itulah yang dilihat Tuhan. Buah Roh bukan hasil dari
satu malam masuk “dimensi roh,” tapi hasil dari proses hidup yang melekat
dengan Tuhan (Yohanes 15:4). Roh Kudus bekerja hari demi hari, membentuk
karakter, mengikis ego, menumbuhkan kesabaran, kasih, dan kerendahan hati.
VI.
Semakin Melekat, Semakin menjadi
Saksi
Di Kisah Para Rasul 1:8 Yesus berkata:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau
Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku...”
Bukan supaya kita “melihat malaikat”, tapi supaya kita
menjadi saksi Kristus. Hidup kita jadi terang dan garam di dunia. Kuasa Roh
Kudus bukan untuk show off, tapi untuk melayani dan memberitakan Injil dengan
keberanian.
Penutup
Roh
adalah Nafas Hidup
Roh Kudus bukanlah sekadar alat untuk
memperbesar pelayanan. Roh Kudus adalah nafas kehidupan, sumber relasi, dan penghubung
kita dengan Allah. Dia adalah Penolong, Penghibur, Guru, dan Sahabat yang
menuntun kita semakin dalam ke dalam kasih Bapa.
Jangan kejar karunia lebih dari hadirat-Nya.
Jangan kejar mujizat lebih dari pribadi-Nya.
Karena semakin kita melekat dengan Tuhan, semakin kita
dibakar oleh Roh-Nya, bukan untuk pamer kekuatan, tetapi untuk menjadi saksi
yang hidup.
Kalau kamu merasa kering secara rohani, jangan cari
"dimensi roh", Cari Tuhan. Hubungan itu tersedia, dan Roh Kudus
selalu siap menuntun kita kembali ke pelukan kasih-Nya.
Karena Roh Kudus bukan sekadar kuasa. Dia
adalah Pribadi yang rindu tinggal dalam hatimu.

Komentar
Posting Komentar