Baca juga : #5 = Hati yang Terbakar: Tanda, Bahasa, dan Hidup oleh Roh
#6
“Jangan Padamkan Roh”
1 Tesalonika 5:19
Kali ini saya mau
mengajak kita merenungkan satu perintah yang sangat singkat, tapi penuh kuasa.
Satu kalimat pendek dari rasul Paulus, tapi dalam maknanya luar biasa:
“Jangan padamkan Roh.”
(1 Tesalonika 5:19)
Kalimat ini tidak memakai
banyak kata. Tapi kalau kita abaikan, kita sedang memadamkan satu-satunya
terang yang bisa membakar hati kita untuk Tuhan. Dan jika Roh padam,
maka iman kita hanya akan jadi rutinitas kosong.
1. Roh Kudus adalah Api
yang Menyala
Roh Kudus bukan sekadar
perasaan hangat dalam ibadah, bukan juga hanya suara hati kecil. Dia adalah Api
dari Surga.
Ketika murid-murid menantikan janji Allah di kamar loteng, apa yang turun dari
langit? Bukan doktrin, bukan rencana pelayanan tapi lidah-lidah api. (Kisah
Para Rasul 2:3)
Api itu membakar
ketakutan mereka, membakar keraguan mereka, dan menggantinya dengan keberanian,
kuasa, dan kasih.
Dan Paulus bilang: “Jangan padamkan api itu.”
Pertanyaannya: Mengapa
api Roh bisa padam?
2. Tiga Penyebab Api Roh
Padam dalam Hidup Kita
a) Dosa yang dipelihara
Saat kita tahu apa yang
salah, tapi tetap melakukannya, kita sedang memadamkan Roh.
Efesus 4:30 bilang: “Jangan mendukakan Roh Kudus.”
Roh Kudus bukan seperti alarm kebakaran yang bunyinya keras, tapi seperti nyala
lilin yang lembut. Kalau kita tiup terus dengan dosa, Dia bisa padam dari hidup
kita.
b) Kekerasan hati
Kalau kita sering menolak
suara Roh, lama-lama hati kita mati rasa.
Awalnya Roh menegur: “Jangan buka yang itu.” Kita abaikan. Besok Dia bisik
lagi: “Maafkan dia.” Kita tolak.
Lama-lama suara Roh makin redup bukan karena Dia tak bicara, tapi karena kita
tak lagi mendengar.
c) Kehidupan rohani yang
dingin
Doa tak lagi bergairah.
Firman dibaca asal lewat. Ibadah jadi kebiasaan.
Api tak padam karena badai besar, tapi karena dibiarkan tanpa bahan
bakar.
Kalau kita tidak lagi mencari Tuhan, jangan heran kalau nyala itu tinggal asap.
3. Bagaimana Menjaga Api
Roh Tetap Menyala
a) Bangun keintiman
pribadi dengan Roh Kudus
Roh Kudus bukan hanya
kuasa, tapi pribadi.
Berbicaralah dengan-Nya. Saat pagi menyapa, ucapkan: “Roh Kudus, pimpin aku
hari ini.”
Saat hati hancur, katakan: “Roh Kudus, hiburkan aku.”
Dia adalah Penolong, Penghibur, Sahabat, dan Guru.
b) Pelihara hidup kudus
Bukan sempurna, tapi
berserah.
Roh Kudus tinggal di hati yang bersih. Bukan karena kita layak, tapi karena
kita rela dibersihkan.
c) Peka dan taat pada
suara-Nya
Kadang Roh Kudus
berbicara lewat dorongan lembut:
“Telepon orang tuamu.”
“Berdoa untuk dia.”
“Jangan balas komentar mereka yang merendahkan kamu.”
Waktu kita taat dalam hal kecil, kita sedang menjaga api itu tetap menyala.
PENUTUP:
Undangan untuk
Membakar Kembali Api Roh Kudus
Saya percaya Roh
Kudus tidak berhenti bekerja.
Tapi bisa jadi api itu kini tinggal abu.
Kita datang ke ibadah tapi hati kosong. Kita baca Alkitab tapi tak mengerti.
Kita berdoa tapi tak menyala.
Hari ini Tuhan berkata: “Jangan padamkan Roh.”
Bukan hanya sebuah
larangan tapi sebuah panggilan untuk menyala kembali.
Nyala kasih, nyala pengampunan, nyala kerinduan akan hadirat Tuhan.
Tuhan memberkati, jangan
padamkan Roh, biarkan Roh Kudus menyala dan dunia akan melihat terang-Nya dari
hidupmu.

Komentar
Posting Komentar