Langsung ke konten utama

#5 = Hati yang Terbakar: Tanda, Bahasa, dan Hidup oleh Roh

 

#5
"Hati yang Terbakar:
Tanda, Bahasa, dan Hidup oleh Roh"


Baca juga : #4 = Dari Takut Menjadi Berani: Kuasa Roh Kudus yang Mengubahkan (Kisah Para Rasul 2:14–41)


"Hati yang Terbakar:

Tanda, Bahasa, dan Hidup oleh Roh"

(Kisah Para Rasul 2:1–13, 1 Korintus 14:1–4, Roma 8:5–6)

Chapter ke 5 dari Series:10 Hari Menanti Pentakosta

 

Kali ini kita masuk ke tema yang seringkali menjadi perbincangan hangat di kalangan orang percaya, bahkan kadang jadi bahan kontroversi:

“Bahasa roh atau berbahasa lain seperti yang diberikan oleh Roh.”

Di satu sisi, ada yang menyambutnya dengan sukacita sebagai karunia ilahi.
Di sisi lain, ada yang ragu, bahkan menolak, karena menganggapnya aneh, tidak logis, atau tidak relevan.

Namun kali ini tidak untuk berdebat., saya ajak kita untuk belajar.
Apa sebenarnya makna dari bahasa roh? Mengapa itu terjadi pada hari Pentakosta? Dan yang lebih penting, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup setelah itu?

 

I.          Peristiwa Ajaib di Hari Pentakosta

Kita awali dari Kisah Para Rasul 2.

Pada hari Pentakosta, 120 murid berkumpul di loteng atas, tempat mereka biasa berdoa. Tiba-tiba terdengar suara dari langit, seperti tiupan angin keras. Lidah-lidah seperti nyala api hinggap di atas masing-masing dari mereka.

"Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya." (Kis. 2:4)

Apa yang terjadi di sini?
Ini bukan sekadar pengalaman pribadi, bahasa roh menjadi tanda yang mengguncang seluruh Yerusalem. Ketika Roh Kudus turun, para murid mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain.. Banyak orang yang datang dari berbagai wilayah kekaisaran Romawi, dari Mesir sampai Partia terheran-heran karena mereka mendengar para murid berkata-kata dalam bahasa mereka masing-masing.

Orang-orang ini berkata:

"...kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." (Kis. 2:11)

Inilah salah satu fungsi dari bahasa roh dalam konteks publik, menjadi tanda yang menyatakan kemuliaan Allah. Bahasa tidak lagi menjadi penghalang, melainkan jembatan kesaksian.

 

II.         Bahasa Roh: Sebagai Tanda dan Sarana Bangunan Rohani

Di 1 Korintus 14, Paulus menjelaskan bahwa berbahasa roh adalah salah satu dari banyak karunia Roh Kudus.
Namun ia juga mengingatkan, bahwa berbahasa roh harus disertai pengertian, dan tidak boleh berhenti di situ saja. Paulus dalam 1 Korintus 14 membedakan antara bahasa roh sebagai tanda publik dan bahasa roh sebagai ekspresi pribadi.

Kata Paulus:

"Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah..." (1 Kor 14:2)
"...Ia membangun dirinya sendiri..." (1 Kor 14:4)

Artinya, berbahasa roh adalah bentuk komunikasi langsung kepada Allah, dan sarana untuk membangun roh kita secara pribadi. Ini berarti, bahasa roh juga diberikan Tuhan untuk membangun roh kita sendiri.
Saat kita tidak tahu harus berdoa apa, atau tidak bisa menyusun kata-kata secara rasional, Roh Kudus dapat mengambil alih dan membawa kita kepada komunikasi yang lebih dalam dengan Allah.

Bahkan Paulus berkata:

"Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih daripada kamu semua." (1 Kor. 14:18)

Artinya, Paulus sendiri menghargai dan menghidupi karunia ini, tapi juga mengajarkan agar tidak disalahgunakan dalam ibadah-ibadah.

Ini bukan tentang pamer kuasa atau kehebatan, tapi tentang relasi, hubungan yang dalam antara roh manusia dengan Roh Allah.

 

III.        Pro dan Kontra: Apa yang Harus Kita Sikapi?

Kita tidak bisa tutup mata bahwa ada banyak orang yang meragukan bahasa roh.
Ada yang bilang itu hanya emosi. Ada yang menuduh sebagai kebiasaan yang dibuat-buat. Ada juga yang trauma karena pernah melihat penyalahgunaan karunia ini.

Mengapa banyak yang skeptis?

  • Karena takut manipulasi
  • Karena trauma dengan pengalaman religius yang tidak sehat
  • Karena tidak ada pengajaran yang jelas

Tapi Firman Tuhan berkata:

"Jangan padamkan Roh.Dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik." (1 Tes. 5:19–21)

Artinya, kita tidak boleh langsung menolak hanya karena belum memahami. Tugas kita adalah menguji berdasarkan Firman, bukan berdasarkan emosi. Sebagai orang percaya yang memegang Alkitab, tahu bahwa bahasa roh adalah nyata, dan Alkitab tidak pernah mencabut karunia ini.

Namun penting juga untuk kita pahami, bahasa roh bukan tujuan akhir.
Bahasa roh adalah pintu masuk kepada kehidupan yang lebih dalam dengan Tuhan.

Kalau seseorang bisa berbicara dalam bahasa roh tapi hidupnya tetap dikuasai amarah, egois, tidak jujur, dan tidak mencerminkan kasih, maka kita harus bertanya “Apakah dia hanya mengalami manifestasi, tapi belum benar-benar hidup oleh Roh?”

 

IV.       Bahasa Roh Bukan Akhir, Tapi Awal dari Perjalanan

Sayangnya, banyak orang berhenti di pengalaman bahasa roh. Mereka menganggap itu sebagai bukti bahwa mereka “sudah penuh Roh Kudus.”

Tapi perhatikan, “tujuan dari kepenuhan Roh bukanlah manifestasi, tapi transformasi.”
Tuhan tidak hanya ingin kita berbahasa roh di ruang doa, tapi juga hidup dalam Roh di dunia nyata.

Roma 8:5–6:

"Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal dari Roh."

Berbahasa roh harus diikuti oleh hidup yang dipimpin Roh.
Kalau bahasa roh kita tidak diikuti oleh:

  • kasih dalam relasi,
  • kelembutan dalam perkataan,
  • kesabaran dalam konflik,
  • kekudusan dalam keputusan,

maka kita sedang menikmati karunia tanpa hidup dalam buah.

 

V.        Hidup oleh Roh: Lebih dari Sekadar Bahasa

Roma 8:5–6 mengatakan:

"Mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal dari daging. Tetapi mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal dari Roh."

Jadi, kalau kita benar-benar dipenuhi oleh Roh Kudus, hidup kita juga akan mencerminkan buah Roh.
Bukan cuma tanda, tapi juga karakter.
Bukan cuma bahasa roh, tapi perilaku roh.

Galatia 5:22-23 menjelaskan buah Roh itu adalah:

  • Kasih, kepada yang menyakiti
  • Sukacita, di tengah masalah
  • Damai sejahtera, saat semua orang gelisah
  • Kesabaran, ketika ditolak dan dalam ujian
  • Kemurahan, dalam dunia yang egois
  • Kebaikan, dalam dunia yang jahat
  • Kesetiaan, dalam tanggung jawab dan dunia yang penuh pengkhianatan
  • Kelemahlembutan, walau disalahpahami
  • Penguasaan diri, meski dipancing emosi

Itulah tanda hidup oleh Roh yang sejati.
Jadi kalau kita dipenuhi Roh Kudus dan berbahasa roh, buah-buah itu juga akan nyata dalam hidup kita. Bahasa roh boleh jadi tanda awal bahwa kita dipenuhi Roh,
tapi buah Roh adalah bukti nyata bahwa kita hidup di bawah pimpinan-Nya.

 

VI.       Bahasa Roh adalah Awal, Bukan Akhir

Kalau kita hanya berhenti di pengalaman bahasa roh, kita akan kehilangan tujuan utama dari pencurahan Roh Kudus. Tuhan tidak mencurahkan Roh-Nya supaya kita hanya merasakan pengalaman, tapi supaya kita menghidupi panggilan.

Bahasa roh bisa jadi alat yang Tuhan berikan untuk menguatkan roh kita, tapi setelah dikuatkan, kita harus melangkah.

  • Melayani,
  • Mengasihi,
  • Mengampuni,
  • Menjadi terang,
  • Menjadi saksi Kristus di dunia.

 

VII.      Perlu Diperhatikan

  • Kata Yunani untuk "glossa" (bahasa roh) juga bisa berarti “bahasa yang tidak dikenal” ini menunjukkan bahwa karunia ini tidak selalu harus dimengerti oleh orang lain, tapi tetap sah dan alkitabiah jika digunakan secara pribadi.
  • Di Kisah Para Rasul 10 dan 19, bahasa roh juga menjadi tanda awal bahwa seseorang telah menerima Roh Kudus.
    Namun dalam surat-surat Paulus, karunia ini tidak dimiliki oleh semua orang (1 Kor 12:30) artinya, ini bukan satu-satunya tanda seseorang kepenuhan Roh Kudus, melainkan salah satu tanda kepenuhan Roh Kudus.
  • Jadi, kepenuhan Roh Kudus lewat bahasa Roh itu bisa jadi manipulatif ketika tidak dibarengi dengan berbuah Roh ketika dia berulang-ulang berbahasa namun tidak mempunyai buah.
  • Namun, seseorang yang pertama kali kepenuhan Roh atau Berbahasa Roh itu menjadi tanda bahwa seseorang itu kepenuhan Roh Kudus. Itu juga menjadi tanda awal bagi pengalaman kepenuhan Roh Kudus dalam hidupnya. Pertanyaannya, apakah kemudian mampu berbuah?

 

Penutup

Mari kita bertanya:

  • Apakah kita mengalami bahasa roh hanya sebagai sensasi, atau kita juga hidup oleh Roh?
  • Apakah kita hanya mengejar pengalaman, atau sungguh hidup oleh pimpinan Roh Kudus?
  • Apakah buah Roh nyata dalam hidup kita?
  • Apakah kita memakai karunia Roh bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi untuk melayani Tuhan dan sesama?
  • Apakah kita hanya membuka hati untuk berbahasa roh, namun tidak membuka hidup kita untuk diubah oleh-Nya?

kita belajar:

Bahasa roh penting, tapi kehidupan yang dipimpin Roh lebih penting lagi.
Roh Kudus tidak hanya ingin tinggal di lidah kita, tapi juga di hati, pikiran, dan perbuatan kita setiap hari. Kita percaya pada karunia bahasa roh,
tapi lebih dari itu, kita rindu untuk hidup sebagai manusia rohani
yang memuliakan Tuhan bukan hanya dengan lidah, tapi juga dengan hidup.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

#3 = Roh Kudus: Siapa Dia dan Apa Peran-Nya? (Yohanes 16:7–15)

#3 "Roh Kudus: Siapa Dia dan Apa Peran-Nya?" (Yohanes 16:7–15)   Baca juga :  #2 = Janji Bapa: Roh Kudus Akan Dicurahkan (Kisah Para Rasul 1:4–5, Yohanes 14:16–17) "Roh Kudus: Siapa Dia dan Apa Peran-Nya?" (Yohanes 16:7–15) Chapter 3 dari  Series : 10 Hari Menanti Pentakosta   Kali ini, kita sampai pada satu pertanyaan penting yang perlu dijawab oleh setiap kita yang rindu hidup dipenuhi Roh Kudus: "Siapa sebenarnya Roh Kudus? Dan apa yang Ia lakukan dalam hidupku?" Karena bagaimana mungkin kita bisa menyambut dan berjalan bersama-Nya, jika kita sendiri belum sungguh-sungguh mengenal pribadi-Nya?   I.           Roh Kudus Adalah Pribadi, Bukan Sekadar Kuasa Mari kita mulai dengan sesuatu yang sangat mendasar namun seringkali terlewat: Roh Kudus adalah Pribadi, bukan sekadar kekuatan atau energi ilahi. Yesus sendiri dalam Yohanes 16 berulang kali menyebut-Nya dengan kata “Ia,” bukan “itu.” Ini bu...

"Ia Naik, Tetapi Tidak Pernah Meninggalkan Kita" (Kisah Para Rasul 1:6–11)

  " Ia Naik, Tetapi Tidak Pernah Meninggalkan Kita" (Kisah Para Rasul 1:6–11) Baca juga :  “Bukan Keadaan, Tapi Kamu yang Semakin Kuat” " Ia Naik, Tetapi Tidak Pernah Meninggalkan Kita" (Kisah Para Rasul 1:6–11) Pada hari ini, kita memperingati sebuah peristiwa agung dalam sejarah iman Kristen, yakni kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga. Ini bukan sekadar momen teologis, tetapi merupakan titik penting dalam rencana keselamatan Allah bagi umat manusia. Kenaikan Kristus menandai transisi dari karya penebusan di dunia menuju pemerintahan-Nya yang kekal di surga dan sekaligus menjadi panggilan bagi kita semua untuk meneruskan misi-Nya di dunia ini.           I.  KENAIKAN YESUS BUKAN AKHIR, MELAINKAN PENGGENAPAN Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 1:9 mencatat: “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.” Peristiwa ini bukanlah tanda bahwa Yesus telah meninggalkan...

"Mengapa Kita Berdoa 10 Malam? Memahami Kuasa yang Dijanjikan"

  "Mengapa Kita Berdoa 10 Malam? Memahami Kuasa yang Dijanjikan" Baca juga :  "Ia naik, tetapi tidak pernah meninggalkan kita." "Mengapa Kita Berdoa 10 Malam? Memahami Kuasa yang Dijanjikan" SERIES : 10 Hari Menanti Pentakosta Shalom, saudara-saudari terkasih dalam Tuhan! Pernahkah saudara bertanya-tanya, “Kenapa gereja kita mengadakan Doa 10 Malam setelah Kenaikan Tuhan Yesus?” Apakah ini hanya tradisi? Ataukah ada kuasa dan makna rohani yang dalam di baliknya? saya ingin mengajak kita semua menggali bersama: Mengapa Doa 10 Malam ini penting? Apakah ada dasar alkitabiahnya? Dan bagaimana ini bisa memperbarui hidup rohani kita? 1. Dasar Alkitabiah – Apa yang Terjadi Setelah Kenaikan? Setelah Yesus naik ke surga, murid-murid tidak langsung menyebar atau pulang ke rumah masing-masing. Mereka berkumpul di satu tempat, berdoa dengan tekun. Mari kita buka Kisah Para Rasul 1:12-14: “Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bu...