KASIH, PENOLAKAN, DAN PENERIMAAN: PERAGAAN YOHANES 3:16 DI BUKIT TENGKORAK
KASIH, PENOLAKAN, DAN PENERIMAAN:
PERAGAAN YOHANES 3:16 DI BUKIT TENGKORAK
Sebuah
Bukit, Tiga Salib, Tiga Respon
Di
dunia ini, tak banyak momen yang begitu singkat namun mengguncang sejarah umat
manusia seperti penyaliban Yesus di Bukit Tengkorak (Golgota). Di sana, bukan
hanya ada penderitaan, tapi juga peragaan dari kasih paling agung, sekaligus dua
reaksi manusia terhadap kasih itu: penolakan dan penerimaan.
Dan
menariknya, semua itu sudah dirangkum lebih dulu dalam sebuah ayat yang sering
dianggap sederhana:
“Karena
begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan
Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak
binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” - Yohanes 3:16
Bagian
1:
Yohanes
3:16 : Kasih dalam 3 Elemen
Jika
kita bedah secara sederhana tapi dalam, Yohanes 3:16 punya tiga bagian utama:
- Inisiatif Kasih Allah (Agape):
“Karena
begitu besar kasih Allah akan dunia ini...”
- Ini adalah sikap Allah. Kasih-Nya datang lebih dulu, sebelum ada respon
manusia.
- Respon Manusia (Pisteuo):
“Supaya
setiap orang yang percaya kepada-Nya...”
- Ada undangan. Tidak memaksa, tapi membuka ruang.
- Konsekuensi Abadi (Zoe):
“...tidak
binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.”
- Kasih itu bukan hanya soal sekarang, tapi menyangkut kekekalan.
Tapi
bagaimana kita tahu bahwa ayat ini bukan hanya kata-kata manis?
Jawabannya ada di Bukit Golgota, tempat di mana kasih itu diperagakan secara
nyata, di hadapan dua penjahat yang juga disalibkan bersama Yesus.
Bagian
2:
Tiga
Salib : Panggung dari Yohanes 3:16
Bayangkan
adegannya:
- Tiga salib berdiri sejajar.
- Di tengah, Yesus tergantung, memikul
bukan hanya salib kayu, tapi dosa dunia.
- Di kiri dan kanan, dua penjahat yang
dihukum karena kesalahan mereka.
Kita
tidak tahu banyak soal masa lalu dua penjahat itu, tapi yang menarik bukan
latar belakang mereka, melainkan respon mereka terhadap Pribadi yang disalibkan
di tengah.
Ø Penjahat
Pertama : Simbol Penolakan
Ia
mencemooh Yesus:
“Bukankah
Engkau adalah Mesias? Selamatkan diri-Mu dan kami!” (Lukas 23:39)
Bagi
dia, Yesus hanyalah objek sarkasme. Ia tidak melihat kasih, hanya melihat keputusasaan
dan kekecewaan.
Ø Penjahat
Kedua – Simbol Penerimaan
Tapi
penjahat lainnya merespon dengan rendah hati dan penuh harap:
“Yesus,
ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Lukas 23:42)
Ia
melihat lebih dari sekadar tubuh yang tergantung, ia melihat Kasih yang sedang
terluka, dan ia percaya.
Ø Respon
Yesus – Janji Hidup Kekal
Ø “Aku
berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama
dengan Aku di dalam Firdaus.” (Lukas 23:43)
Inilah
Yohanes 3:16 diperagakan langsung di atas salib:
Kasih Allah (Yesus disalib), respon percaya (penjahat kedua), dan hidup kekal
(janji Firdaus).
Bagian
3:
Tiga
Reaksi yang Terus Terulang Hingga Hari Ini
Yang
terjadi di Bukit Golgota bukan hanya sebuah momen sejarah, tapi cermin respon
manusia hingga hari ini. Setiap kali kasih ditawarkan, ada tiga kemungkinan:
- Ada yang menolak, mencemooh,
menyimpan sinisme.
- Ada yang percaya, walau dengan iman
yang sederhana dan penuh luka.
- Dan ada Yesus yang tetap membuka
tangan-Nya, bahkan ketika tangan itu dipaku.
Refleksi:
Jika Kamu Berdiri di Sana, Siapa Kamu?
Setiap
kita berdiri di antara dua respon itu. Kita semua dari latar belakang apapun sedang
dihadapkan pada Kasih yang diperagakan di salib.
Kita
tidak sedang diajak ke agama, tapi kepada sebuah undangan untuk mengenal kasih
yang tidak menyerah bahkan ketika ditolak.
Penutup:
Golgota, Cermin Jiwa Kita
Bukit
Tengkorak bukan hanya tempat kematian. Itu adalah panggung kasih.
Tiga salib berdiri, tapi hanya satu yang menyelamatkan.
Dan kasih itu masih berbicara bukan dengan suara keras, tapi lewat luka,
pengampunan, dan harapan.
Jika
kamu pernah ragu apakah kasih Tuhan itu nyata, lihatlah ke salib. Di sanalah
Yohanes 3:16 hidup, dan masih hidup sampai hari ini.

Amin, sangat di berkati pastor!
BalasHapus