BERTAMBAH UMUR : BELAJAR DENGAN POLA TUHAN
Baca Juga : Mengokohkan Fondasi Iman di Tengah Badai Kehidupan
BERTAMBAH UMUR : BELAJAR DENGAN POLA TUHAN
Waktu
terasa begitu cepat. Tanggal 3 April kemarin, saya resmi bertambah usia.
Rasanya baru kemarin menjalani hari-hari sebelumnya, tapi sekarang saya sudah
ada di usia yang baru. Kalau saya melihat kembali setahun terakhir, begitu
banyak momen yang membekas di hati dan pikiran. Ada yang sangat berkesan sampai
rasanya ingin diulang, ada juga yang berkesan tapi cukup jadi kenangan saja, tidak
perlu terjadi lagi. Ada banyak reminder, tapi ada juga banyak disaster.
Kalau
mau jujur, dalam perjalanan setahun terakhir, saya mengalami banyak hal yang di
luar dugaan. Ada rencana yang saya susun dengan baik, tapi gagal di tengah
jalan. Ada perjuangan yang begitu keras, tapi hasilnya jauh dari harapan. Ada
hubungan yang saya kira bisa bertahan, tapi ternyata harus berakhir. Saya
pernah merasa seperti sudah melakukan yang terbaik, tapi tetap saja hasilnya
tidak seperti yang saya harapkan. Namun, di sisi lain, ada juga hal-hal yang
membuat saya bahagia, berkat yang datang di saat yang tidak terduga,
orang-orang yang tetap ada di sisi saya, dan kesempatan-kesempatan baru yang
Tuhan berikan. Semua ini adalah bagian dari dinamika kehidupan, kadang saya
berada di atas, kadang saya jatuh ke titik terendah.
Ketika
Tuhan Menghantam untuk Menyadarkan
Kita
sering merasa bahwa kita sudah berjalan di jalur yang benar, tapi ternyata
jalan yang kita anggap baik itu tidak selalu sesuai dengan pola Tuhan. Ada
saatnya kita berpikir, "Kenapa ini harus terjadi?" atau "Apa
yang salah?" Padahal, setelah direnungkan, kita menyadari bahwa bukan
semua yang kita anggap baik itu benar-benar baik untuk kita. Kadang sesuatu
terasa nyaman, masuk akal, dan sesuai dengan pola hidup kita, tapi itu bukan
pola yang Tuhan kehendaki.
Ketika
Tuhan Mengizinkan Kejatuhan
Tuhan
sering kali membiarkan kita jatuh bukan karena Dia tidak peduli, tetapi karena
Dia ingin kita menyadari sesuatu. Dia ingin kita melihat bahwa ada hal-hal yang
kita kejar yang sebenarnya tidak akan membawa kita ke tempat yang Tuhan
rancang. Ada keputusan yang kita buat berdasarkan logika dan keinginan kita
sendiri, tapi ternyata justru membawa kita semakin jauh dari rencana-Nya.
Roma
12:2 berkata:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan yang sempurna.”
Kita
perlu mengalami metanoia, perubahan pola pikir. Tuhan tidak ingin kita
terus mengikuti pola kita sendiri atau pola dunia. Dia ingin kita selaras
dengan pola-Nya. Tapi jujur saja, mengubah pola pikir itu tidak mudah. Kita
sudah terbiasa berpikir dengan cara tertentu, merencanakan hidup dengan pola
yang kita anggap benar. Ketika Tuhan mengizinkan kita mengalami kejatuhan, itu
sebenarnya adalah cara-Nya untuk menyadarkan kita bahwa kita harus kembali ke
jalur-Nya.
Tuhan
Punya Rencana yang Lebih Baik
Sering
kali kita bertanya, "Kenapa Tuhan harus pakai cara yang begini?"
atau "Kenapa rasanya menyakitkan?" Tapi satu hal yang harus
kita sadari, cara Tuhan memang tidak selalu nyaman, tapi rancangan-Nya
selalu lebih baik dari rencana kita.
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu,
dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.” (Yesaya 55:8)
Tuhan
tidak pernah bertindak tanpa alasan. Jika Dia mengizinkan kita mengalami
kegagalan, kehilangan, atau kekecewaan, itu karena Dia sedang membentuk kita.
Dia ingin kita bertumbuh, bukan hanya bertambah umur, tapi juga bertambah dalam
hikmat dan iman.
Apa
yang Bisa Kita Pelajari?
kita
belajar bahwa:
- Kita harus bersyukur dalam setiap
musim kehidupan
Tidak
semua hal berjalan sesuai keinginan kita, tapi selalu ada alasan untuk
bersyukur. Tuhan tetap baik dalam segala situasi.
- Kita harus berani berubah dan
menyesuaikan diri dengan pola Tuhan
Kita
tidak bisa terus-terusan memaksakan pola kita sendiri. Jika kita ingin hidup
yang selaras dengan kehendak Tuhan, kita harus bersedia mengalami metanoia—perubahan
pola pikir.
- Kita harus percaya bahwa Tuhan punya
rencana yang lebih baik
Kita
boleh tidak suka dengan cara Tuhan, tapi kita harus percaya pada janji-Nya.
Kita percaya bahwa semua yang terjadi ada dalam kendali-Nya.
- Kita harus tetap berjalan dalam iman
Jangan
biarkan kegagalan atau kekecewaan menghentikan langkah kita. Setiap tahun yang
Tuhan berikan adalah kesempatan untuk bertumbuh, belajar, dan menjadi lebih
baik.
Kesimpulan:
Umur Bukan Sekadar Angka
Sekarang,
ketika kita melihat ke belakang, kita menyadari bahwa setiap hal yang terjadi
dalam hidup kita, baik atau buruk, semuanya adalah bagian dari proses
pembentukan Tuhan. Kita mungkin tidak selalu suka dengan prosesnya, tetapi kita
bisa percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
Jadi,
di setiap usia, kita tidak mau hanya menghitung umur, tetapi kita ingin mengisi
hidup dengan sesuatu yang berarti. Kita semua perlu belajar selaras dengan pola
Tuhan, karena hanya dengan begitu kita bisa memahami mana yang benar-benar baik
bagi kita. Kita tidak mau hanya bertambah tua, tapi kita ingin bertumbuh dalam
iman dan kebijaksanaan.
Tuhan memberkati!

Komentar
Posting Komentar