Langsung ke konten utama

Mengokohkan Fondasi Iman di Tengah Badai Kehidupan

 

Mengokohkan Fondasi Iman di Tengah Badai Kehidupan






Mengokohkan Fondasi Iman di Tengah Badai Kehidupan

 

Sudah lama sejak terakhir kali saya menulis di blog ini, tepatnya pada 26 Desember 2024. Banyak hal terjadi, termasuk kecelakaan motor yang membuat jari manis saya harus dijahit lima jahitan dan diurut karena dislokasi. Hingga akhir Maret 2025, jari saya masih belum pulih sepenuhnya. Rasanya nyeri, dan proses pemulihan ini benar-benar menguji kesabaran saya. Belum selesai dengan itu, awal tahun ini juga membawa ujian lain. Bulan Februari terasa begitu berat secara sosial. Ada banyak hal yang membuat saya merasa kehilangan dan tertekan. Rasanya seperti menghadapi badai yang datang tanpa henti.

Jujur saja, sulit berada dalam kondisi seperti ini. Secara fisik saya masih dalam masa pemulihan, secara mental saya juga terkoyak, tapi di sisi lain, saya tetap harus menjalankan tanggung jawab dalam pelayanan. As a human being, itu tidak mudah. Saya merasa Tuhan membentuk saya dengan cara yang tidak nyaman. Namun, dalam proses ini saya belajar bahwa melayani Tuhan bukan soal keadaan saya, tapi soal ketaatan saya kepada-Nya. Justru dalam kondisi sulit seperti ini, saya menyadari bahwa fondasi iman yang saya bangun selama ini masih harus diperkuat.

 

Saya dulu berpikir bahwa fondasi iman saya sudah cukup kokoh sebagai seorang hamba yang tunduk pada otoritas Tuhan. Tapi sekarang saya mengerti bahwa Tuhan ingin saya naik level. Dia ingin saya membangun fondasi yang bukan hanya kuat dalam pelayanan di gereja, tetapi juga dalam menghadapi tekanan dunia, sosial, emosi, dan pergumulan pribadi. Iman yang teguh bukan hanya saat keadaan baik, tetapi justru saat segalanya terasa sulit.

Yesus pernah berkata dalam Matius 7:24-25, "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu."

Saya merenungkan ayat ini dan menyadari bahwa iman saya harus seperti rumah yang berdiri di atas batu karang. Badai boleh datang, angin boleh menerpa, tetapi jika fondasinya kuat, rumah itu tidak akan roboh. Begitu juga dengan hidup kita, kalau kita berakar dalam Kristus, kita tidak akan mudah tumbang oleh keadaan.

 

Tiga bulan pertama di tahun 2025 ini bukan hanya sulit bagi saya secara pribadi, tetapi juga bagi dunia. Kita melihat bencana alam yang terjadi di berbagai tempat, konflik yang semakin memanas, ekonomi yang tidak stabil. Banyak orang mulai kehilangan harapan, bertanya-tanya, "Di mana Tuhan dalam semua ini?" Tapi justru dalam masa-masa inilah kita harus kembali kepada dasar iman kita.

 

Sebentar lagi, kita akan memperingati kematian dan kebangkitan Yesus. Peristiwa ini bukan sekadar ritual tahunan, tapi sebuah pengingat bahwa kasih dan kuasa Tuhan lebih besar dari segala penderitaan yang kita alami.

Dalam 1 Korintus 3:11, dikatakan, "Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus."

Yesus adalah fondasi yang tidak tergoyahkan. Jika kita berpegang pada-Nya, kita akan tetap berdiri teguh, tidak peduli seberapa besar badai yang menerpa hidup kita.

Saya sadar bahwa dalam perjalanan ini, saya tidak sendiri. Tuhan selalu menyertai, meskipun kadang saya merasa semuanya terlalu berat. Dia yang memberi kekuatan untuk bertahan, Dia yang memberi penghiburan saat hati terasa lelah. Saya belajar bahwa saat kita berjalan bersama Tuhan, kita tidak akan pernah dibiarkan jatuh tanpa harapan.

 

Tahun 2025 masih panjang, dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi satu hal yang pasti, kalau fondasi iman kita kuat, kita tidak akan mudah roboh. Yesus sudah berkorban untuk kita, sekarang giliran kita membangun hidup di atas dasar yang benar. Mari kita tetap percaya, tetap bertahan, dan terus mengokohkan fondasi iman kita. Tuhan selalu menyertai. 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

#3 = Roh Kudus: Siapa Dia dan Apa Peran-Nya? (Yohanes 16:7–15)

#3 "Roh Kudus: Siapa Dia dan Apa Peran-Nya?" (Yohanes 16:7–15)   Baca juga :  #2 = Janji Bapa: Roh Kudus Akan Dicurahkan (Kisah Para Rasul 1:4–5, Yohanes 14:16–17) "Roh Kudus: Siapa Dia dan Apa Peran-Nya?" (Yohanes 16:7–15) Chapter 3 dari  Series : 10 Hari Menanti Pentakosta   Kali ini, kita sampai pada satu pertanyaan penting yang perlu dijawab oleh setiap kita yang rindu hidup dipenuhi Roh Kudus: "Siapa sebenarnya Roh Kudus? Dan apa yang Ia lakukan dalam hidupku?" Karena bagaimana mungkin kita bisa menyambut dan berjalan bersama-Nya, jika kita sendiri belum sungguh-sungguh mengenal pribadi-Nya?   I.           Roh Kudus Adalah Pribadi, Bukan Sekadar Kuasa Mari kita mulai dengan sesuatu yang sangat mendasar namun seringkali terlewat: Roh Kudus adalah Pribadi, bukan sekadar kekuatan atau energi ilahi. Yesus sendiri dalam Yohanes 16 berulang kali menyebut-Nya dengan kata “Ia,” bukan “itu.” Ini bu...

"Ia Naik, Tetapi Tidak Pernah Meninggalkan Kita" (Kisah Para Rasul 1:6–11)

  " Ia Naik, Tetapi Tidak Pernah Meninggalkan Kita" (Kisah Para Rasul 1:6–11) Baca juga :  “Bukan Keadaan, Tapi Kamu yang Semakin Kuat” " Ia Naik, Tetapi Tidak Pernah Meninggalkan Kita" (Kisah Para Rasul 1:6–11) Pada hari ini, kita memperingati sebuah peristiwa agung dalam sejarah iman Kristen, yakni kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga. Ini bukan sekadar momen teologis, tetapi merupakan titik penting dalam rencana keselamatan Allah bagi umat manusia. Kenaikan Kristus menandai transisi dari karya penebusan di dunia menuju pemerintahan-Nya yang kekal di surga dan sekaligus menjadi panggilan bagi kita semua untuk meneruskan misi-Nya di dunia ini.           I.  KENAIKAN YESUS BUKAN AKHIR, MELAINKAN PENGGENAPAN Firman Tuhan dalam Kisah Para Rasul 1:9 mencatat: “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.” Peristiwa ini bukanlah tanda bahwa Yesus telah meninggalkan...

"Mengapa Kita Berdoa 10 Malam? Memahami Kuasa yang Dijanjikan"

  "Mengapa Kita Berdoa 10 Malam? Memahami Kuasa yang Dijanjikan" Baca juga :  "Ia naik, tetapi tidak pernah meninggalkan kita." "Mengapa Kita Berdoa 10 Malam? Memahami Kuasa yang Dijanjikan" SERIES : 10 Hari Menanti Pentakosta Shalom, saudara-saudari terkasih dalam Tuhan! Pernahkah saudara bertanya-tanya, “Kenapa gereja kita mengadakan Doa 10 Malam setelah Kenaikan Tuhan Yesus?” Apakah ini hanya tradisi? Ataukah ada kuasa dan makna rohani yang dalam di baliknya? saya ingin mengajak kita semua menggali bersama: Mengapa Doa 10 Malam ini penting? Apakah ada dasar alkitabiahnya? Dan bagaimana ini bisa memperbarui hidup rohani kita? 1. Dasar Alkitabiah – Apa yang Terjadi Setelah Kenaikan? Setelah Yesus naik ke surga, murid-murid tidak langsung menyebar atau pulang ke rumah masing-masing. Mereka berkumpul di satu tempat, berdoa dengan tekun. Mari kita buka Kisah Para Rasul 1:12-14: “Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bu...