"Natal Bawa Damai? Natal Kelam
di Betlehem"
Matius 2:16-18
Baca Juga : "Alkohol dan Iman Kristen: Salah Alkoholnya atau Mabuknya?"
"Natal Bawa Damai? Natal Kelam di Betlehem"
Matius 2:16-18
Kita sering
mendengar bahwa Natal adalah kabar damai. Lagu-lagu Natal menggema dengan pesan
sukacita: "Damai di bumi, di antara manusia yang berkenan
kepada-Nya." Tetapi, mari kita berhenti sejenak dan bertanya: Benarkah
Natal membawa damai? Jika benar, mengapa sejarah mencatat tangisan
memilukan para ibu di Betlehem?
Di satu
sisi, Natal adalah kelahiran Sang Juru Selamat. Di sisi lain, ada cerita yang
jarang dibahas: pembantaian keji anak-anak di Betlehem yang diperintahkan oleh
Raja Herodes. Ironi yang mencengangkan, bukan?
Sisi Lain
Natal yang Jarang Dibahas
Kita sering
diajak merenungkan kelembutan bayi Yesus di palungan, tetapi jarang mendengar
khotbah tentang darah yang mengalir karena kelahiran-Nya. Di Betlehem,
kelahiran Raja Damai justru memicu aksi tirani seorang raja duniawi. Herodes,
dengan paranoia dan ketakutan kehilangan kekuasaan, memerintahkan pembantaian
anak-anak laki-laki berusia dua tahun ke bawah. Damai? Apa damai ada di
sana?
Bayangkan:
Natal pertama yang seharusnya penuh sukacita menjadi malam penuh jerit tangis.
Malaikat menyanyikan pujian, tetapi para ibu di Betlehem menangisi kehilangan
buah hati mereka.
Ironi
Natal: Sang Damai dan Pedang Dunia
Yesus datang
membawa damai, tapi kedatangan-Nya justru mengungkapkan kebrutalan manusia.
Bagaimana bisa kelahiran seorang bayi memicu pembunuhan massal? Herodes adalah
gambaran manusia yang tidak siap menerima damai sejati. Ia memilih
mempertahankan kuasanya dengan darah daripada menyerahkan tahtanya pada Sang
Raja yang sejati.
Dan inilah
ironinya:
- Yesus lahir untuk memberi hidup,
tetapi kelahiran-Nya menyebabkan kematian banyak anak tak berdosa.
- Natal adalah kabar sukacita,
tapi juga menjadi alasan tragedi yang memilukan.
- Raja Damai lahir di dunia yang
menolaknya, bahkan dengan cara paling brutal.
"Terdengarlah
Suara di Rama"
Tangisan di
Betlehem itu tidak sekadar tragedi. Matius menghubungkannya dengan nubuat
Yeremia:
"Terdengarlah
suara di Rama, tangis dan ratap yang amat pedih; Rahel menangisi anak-anaknya
dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi."
Rahel, ibu
simbolis Israel, menangis karena generasinya dihancurkan. Apakah ini damai yang
dijanjikan Natal? Di mana damai ketika para ibu menggenggam tubuh anak-anak
mereka yang tak bernyawa?
Menggali
Makna di Tengah Ironi Natal
Natal memang
membawa damai, tetapi damai yang ditawarkan Yesus bukan damai yang dunia
pahami. Damai ini adalah damai batin, damai yang melampaui kekacauan dunia.
Tetapi dunia, dengan kekejamannya, selalu melawan damai sejati.
Herodes
adalah simbol penolakan dunia terhadap damai yang mengganggu status quo. Sejak
kelahiran-Nya, Yesus telah memicu perpecahan: mereka yang menerima-Nya dan
mereka yang menolak-Nya. Natal bukan sekadar perayaan kelahiran, melainkan
pengingat bahwa damai sejati selalu memiliki harga.
Sebuah
Pertanyaan untuk Kita
Pendeta
mungkin jarang membahas ini di mimbar. Kita lebih suka mendengar kisah Natal
yang manis dan menenangkan, bukan kisah tentang tangisan dan darah. Tetapi
inilah sisi lain Natal: damai datang di tengah kegelapan.
Jadi, Natal
bawa damai? Ya, tetapi damai yang datang dengan tantangan. Damai yang
mengungkapkan betapa dunia ini keras kepala dan penuh dosa. Dan damai itu
akhirnya akan diteguhkan melalui salib, di mana darah Yesus sendiri tertumpah
untuk mendamaikan manusia dengan Allah.
Natal tidak
hanya tentang sukacita, tetapi juga tentang pengorbanan. Di tengah ironi dan
tragedi Natal, ada sebuah pertanyaan besar: Apakah kita siap menerima damai
sejati yang ditawarkan Yesus, meskipun itu menuntut perubahan radikal dalam
hidup kita? Atau, seperti Herodes, kita akan terus menolak-Nya, terjebak
dalam ego dan kekuasaan?
Itulah sisi Natal yang jarang kita bicarakan.

Komentar
Posting Komentar