#1
“Menanti dalam Satu Hati: Teladan Loteng Yerusalem”
(Kisah Para Rasul 1:12–14)
Baca juga : "Mengapa Kita Berdoa 10 Malam? Memahami Kuasa yang Dijanjikan"
“Menanti
dalam Satu Hati: Teladan Loteng Yerusalem”
(Kisah Para Rasul 1:12–14)
Chapter 1 dari Series : 10 Hari Menanti Pentakosta
Ini adalah rangkaian pertama dari sepuluh rangkaian doa sepuluh malam/hari yang
penuh pengharapan, kita menanti dengan iman, dengan doa, dan dengan kerinduan
akan lawatan Roh Kudus.
Saya ingin mengajak kita semua untuk membuka hati dan belajar dari satu kisah luar biasa, kisah para murid yang menanti dengan setia di loteng Yerusalem.
Mari
kita baca Kisah Para Rasul 1:12–14:
"Maka
kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun...
Mereka semua berkumpul dengan sehati dalam doa bersama... bersama beberapa
perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan saudara-saudara-Nya."
1. Mereka
Kembali ke Yerusalem – Tempat yang Menakutkan
Ayat
12 dimulai dengan kalimat, “Maka kembalilah mereka ke Yerusalem.”
Yerusalem saat itu bukan tempat yang nyaman. Itu adalah tempat di mana Yesus
baru saja disalibkan. Itu adalah kota penuh bahaya dan ketegangan bagi para
pengikut Kristus. Tetapi mereka kembali ke sana. Kenapa? Karena Yesus yang
menyuruh mereka.
Yesus
berkata:
“Jangan
meninggalkan Yerusalem, tetapi tetaplah di situ menantikan janji Bapa...”
(Kisah
Para Rasul 1:4)
“Mereka
taat, mereka menunggu, mereka tinggal.”
Kadang
yang paling sulit bukan percaya, tetapi menunggu dengan taat.
Tuhan tidak bilang kapan Roh Kudus akan turun. Dia hanya bilang “Tunggu.”
Dan mereka menunggu.
2.
Mereka Berkumpul di Satu Tempat, dalam Satu Hati
Perhatikan
ayat 14:
"Mereka
semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama."
-
Mereka sehati, Mereka satu roh
Mereka
tidak saling curiga. Tidak saling menyalahkan. Padahal di antara mereka ada
yang pernah menyangkal (Petrus). Ada yang dulunya ingin jadi yang terbesar.
Tapi sekarang mereka tidak saling mengungkit masa lalu.
-
Mereka satu fokus: Menanti janji Bapa
Ini adalah teladan bagi kita malam ini. Kalau kita mau mengalami Pentakosta dalam hidup kita, kita harus membangun kesatuan. Jangan izinkan ego, perbedaan, atau luka masa lalu memecah kita.
Roh
Kudus hadir di tengah kesatuan.
Mazmur
133:1 berkata:
“Sungguh
alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan
rukun.”
Dan ayat 3 berkata:
“Sebab
ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat.”
3.
Mereka Bertekun dalam Doa
Ayat
14 mengatakan:
“Mereka
semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama...”
-
Mereka tidak hanya menunggu, Mereka
berdoa.
Dan
bukan doa singkat. Tapi doa yang tekun, doa yang terus-menerus, doa yang
bergelora.
-
Mereka tidak tahu kapan Roh Kudus akan
datang.
Tapi
mereka tahu Tuhan pasti menggenapi janji-Nya.
-
Itulah iman: menunggu dengan berdoa, bukan
dengan mengeluh.
-
Kadang kita maunya instan: berdoa sekali,
langsung dijawab.
Tapi murid-murid Yesus menunggu 10 hari penuh doa.
Itulah
yang menjadi dasar gerakan “Doa 10 Malam” yang kita jalani ini.
Bukan karena kita mau menciptakan sistem baru, tapi karena kita meneladani apa
yang para rasul lakukan.
4.
Perempuan dan Keluarga Turut Berdoa
Saya
suka bagian ini:
“...bersama
beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan saudara-saudara-Nya.”
Artinya,
gerakan ini melibatkan keluarga. Roh Kudus tidak hanya untuk pendeta atau
pelayan.
Setiap orang yang menanti dengan hati yang rindu akan menerima-Nya.
Anak-anak,
ibu rumah tangga, orang tua, remaja, semua dipanggil untuk ikut berdoa menanti
lawatan Tuhan.
5.
Loteng Yerusalem: Tempat Doa yang Menjadi Tempat Pencurahan
Bayangkan
tempat ini: bukan gedung gereja mewah. Hanya sebuah loteng biasa.
Tapi karena di tempat itu ada orang-orang yang sehati, berdoa, menanti Tuhan.
Tempat itu menjadi altar pencurahan Roh Kudus pertama.
Rumahmu
bisa jadi loteng Yerusalem. Kamar doa kita, persekutuan kecil kita, kalau kita
sehati dan rindu, Tuhan sanggup mencurahkan Roh-Nya.
Penutup
Tuhan
sedang memanggil kita untuk menjadi generasi loteng Yerusalem.
Bukan
hanya orang yang tahu tentang Roh Kudus, Tapi orang yang benar-benar rindu dan
menanti lawatan-Nya.
Mari
kita mulai rangkaian doa-doa kita dengan sehati, seperti para murid dulu:
- Taat kepada perintah Yesus,
- Kembali ke tempat yang
ditentukan-Nya,
- Berdoa dengan tekun,
- Menyatu dalam satu hati,
- Menanti janji Bapa.
Roh
Kudus siap dicurahkan, tapi Dia mencari hati yang siap.
Mari
kita berdoa bersama, dengan satu kerinduan:
“Tuhan,
bentuk aku jadi bagian dari generasi loteng Yerusalem. Penuhi aku dengan Roh-Mu,
lawati aku, pakai aku.”

Komentar
Posting Komentar